Oleh : Amar Suteja*
“3.000 orang alumni, bahkan bisa jadi lebih, yang selama 10 tahun ini lahir dari Lembaga Pendidikan Amanatul Ummah hanya akan berakhir dengan lahirnya kebaikan-kebaikan kecil jika tidak ada mekanisme silaturrahmi yang terstruktur dan masif”.
Satu kutipan pepatah mengatakan bahwa kebaikan yang tercerai berai hanya akan melahirkan omong kosong. Petikan kalimat pepatah tersebut layak untuk kita telaah bersama. Selama ini sedikit dari kita yang mengerti pepatah anonym ini. Bahwasanya sebanyak apapun kebaikan jika tidak terkoordinasi dengan baik hanya akan melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya yang kuantitasnya relative kecil. Kami yakin bahwa lembaga pendidikan di Amanatul Ummah telah berupaya melahirkan alumni-alumni yang siap membawa misi kebaikan, dan kami juga yakin tak satupun diantaranya telah diajari untuk melakukan hal buruk kedepannya. Karena yang jelas visi dasar dari Lembaga Pendidikan Amanatul Ummah adalah terbentuknya pribadi yang
Rahmatan Lil Alamin. Dan seharusnya kebaikan ini harus dilanjutkan dan di koordinasi dengan baik.
Lembaga Pendidikan Amanatul Ummah pertama kali melahirkan alumni pada tahun 2004. Secara simultan setiap tahun lahir alumni-demi alumni. Dan saat ini saja, tahun ke-10, melahirkan alumni yang jumlahnya kurang lebih 700 orang. Hitungan secara kasar, selama 10 tahun ini jika dijumlah secara keseluruhan, maka telah lahir lebih dari 3000 orang alumni. Dan hebatnya lagi, lebih dari 90% alumni amanatul ummah melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Artinya, hari ini Amanatul Ummah telah memiliki alumni sedemikian banyak dengan sumber daya beragam yang sangat luar biasa.
Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan sumber daya dengan kuantitas besar yang sedemikian beragam? Apakah hanya akan berakhir dengan kata “biarlah” ?. Kalau meminjam istilah kata bahasa jawa, maka kami akan mengatan “Eman”. Sangat disayangkan jika sumber daya tersebut hanya berakhir sia-sia. Karena pada dasarnya, alumni Amanatul Ummah berpotensi melahirkan banyak hal. Berapa banyak hari ini alumni yang sudah bekerja dan mendapat posisi strategis di tempat kerjanya. Berapa alumni Amanatul Ummah yang telah mengembangkan usaha dan berhasil hari ini. Belum lagi di tingkatan mahasiswa banyak sekali yang telah menjadi figure hebat, seperti menjadi presiden BEM atau ketua organisasi kepemudaan lainnya. Lebih jauh lagi, potensi itu semakin besar jika melihat variasi pendidikan yang ditempuh oleh alumni Amanatul Ummah. Mulai dari Kedokteran, Kebidanan, Keperawatan, teknik, pendidikan, politik, sastra, sampai agama.
Memang benar bahwa pendidikan di Amanatul Ummah hanya sampai pada jenjang pendidikan sekolah menengah atas. Dan benar pula bahwa sebagian besar dari kemampuan yang kita dapat bukan berasal dari Lembaga Pendidikan Amanatul Ummah. Tetapi setidaknya, kita pernah berproses ditempat yang sama, bercanda dan tertawa di bawah atap yang sama, kita menangis, bersedih, dan tidur dilantai yang sama, pernah mendapatkan hukuman dan penghargaan dilapangan yang sama, makan dengan nasi yang dimasak di tungku yang sama, Belajar di kelas yang sama, mandi di kamar mandi yang sama. Lalu apakah hal tersebut tidak cukup untuk menjadikan kita saudara?.
Mungkin kita pernah berselisih paham selama menempuh pendidikan di Lembaga Pendidikan Amanatul Ummah. Kita pernah dibutakan oleh kompetisi hingga seakan kita musuh. Tapi itu sudah berlalu, semestinya hari ini kita saling berjabat erat berpikir bagaimana mengoptimalkan potensi kita. Jangan berpikir terlalu jauh ada kepentingan apa di baliknya. Fokuskan pikiran kita bahwa kita saudara dari almamater yang sama.
10 atau 20 tahun kedepan dengan pikiran yang sama dan jabat erat tangan kita. Akan lahir perubahan besar di negeri ini dari Alumni Amanatul Ummah. Tapi jika dirasa itu terlalu besar, cukuplah kita niati bersama bahwa ini adalah upaya membangun silaturrahmi sesama alumni Lembaga Pendidikan Amanatul Ummah dan sebagai bagian dari upaya kita melakukan sebuah kebaikan.
Yang perlu kita ingat adalah HIMAH (Himpunan Alumni Amanatul Ummah) tidak lahir dari kepentingan satu atau dua orang. HIMAH lahir sebagai kebutuhan bersama bahwa kita butuh perangkat pemersatu. Kita butuh rumah besar tempat bernaung setelah selesai dari Lembaga Pendidikan Amanatul Ummah. HIMAH lahir sebagai upaya sistematisasi sumberdaya alumni. HIMAH lahir untuk sebuah tujuan kebaikan yang lebih besar, maka tidak ada alasan untuk kita menolaknya. Jika ada sebuah organisasi yang memberikan ruang untuk kita bersilaturrahmi, maka menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk mendukung dan berpartisipasi didalamnya.
*Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Alumni Amanatul Ummah